Laporan harian #84 [ “Buanglah air pada jalanan” ]


Assalamu’alaikum, wr.wb.

Tokem semua….


Kemarau yang sangat panjang mengepung hampir di semua pesisir pulau jawa, tidak terkecuali di tempat sekarang ini saya berada. Dalam kurun waktu empat bulan terhitung mulai bulan juni hingga September ini, hujan dapat di hitung dengan jari. Dan itu pun volumenya sangatlah kecil,dalam artian hanya gerimis sebentar lalu cuaca kembali menjadi terasa panas. Apakah dunia sudah mulai keluar dari poros perputarannya? Sehingga bulan –bulan yang biasa berakhiran BER (seperti septemBER) kini tidak lagi dominan berpeluang hujan. Ini bukan hanya sekedar menghitung satu kebiasaan tetapi memang musim kemarau ini begitu terasa panjang.

Ada yang baru dari imbas musim kemarau panjang ini, khususnya dilingkungan saya pribadi. Apakah itu? Salah satunya adalah membuang air ke jalanan (menyirami jalan). Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang sudah dengan sepenuh hati melakukan penyiraman jalanan ini. Berkat bapak- bapak dan juga ibi-ibu, om dan tante, serta abang-abang dan empok- empok semua, jalanan yang biasa kita lewati ini menjadi sedikit terbantu ke ademannya.tak peduli itu air comberan yang berbau tak sedap atau pun air sisa-sisa mencuci piring

Tetapi dibalik kebiasaan baru ini yakni menyirami/membuang air ketengah jalanan ini juga sebetulnya terkandung juga sebuah kemudharatan bagi si pengguna jalan itu sendiri. Seperti salah satu contoh yang saya pribadi rasakan ketika melewatinya, pertama sudah tentu merasa jijik (ini ma’af- ma’af kata iya) soalnya sumber air yang sering mereka guyurkan ketengah jalan tersebut adalah air comberan/got. Yang kedua sudah tentu bernajis dan juga berbau tak sedap, yang ketiga merusak jalan itu sendiri. Belum lagi seperti mereka yang biasa berlalu lalang dengan menggunakan motor, saya yakin betul jika didalam hati mereka (para pengendara motor) sudah tentu terucap kata tidak senang, karena apa? Karena setiap saya memperhatikan para pengendara sepeda motor ini melewati jalan yang habis terkena guyuran air tak tentu ini, mereka selalu memperlambat laju kendaraannya, seperti berharap air tersebut tidak sampai menyiprati (mengotori) sepakboard motornya.

Iya memang seperti inilah manusia, selalu merasa ada yang puas dan juga merasa tidak puas (senang). Tetapi disini intinya, saya pribadi sebagai penulis berharap sekali semoga kemarau yang panjang ini segera berlalu dan turunkanlah curah hujan-Mu ya Robb. Agar kesuburan di tanah kami kembali. Aamiin

Iklan

10 thoughts on “Laporan harian #84 [ “Buanglah air pada jalanan” ]

Komentar ditutup.